STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
BUDIDAYA TANAMAN CABE MERAH KERITING
SESUAI DENGAN
PRAKTIK BUDIDAYA YANG BAIK DAN BENAR
GOOD AGRICULTURE PRACTICES (GAP)
PENANGANAN PASCAPANEN
GOOD HANDALING PRACTICES (GHP)
BUDIDAYA
Praktik budidaya yang baik dan benar
dilakukan dengan memperhatikan keseluruhan tahapan budidaya mulai dari lahan
sampai panen. Praktik budidaya tersebut dilakukan dengan prinsip ekologi yang
dapat menjaga kelestarian sumberdaya hayati dan kesehatan pangan. Dengan
demikian praktik budidaya tersebut menggunakan input yang aman dan terjamin
sehingga keberlangsungan kegiatan budidaya tetap terjaga. Dampak yang
didapatkan akan bernilai positif, diantaranya kesuburan tanah terjaga,
keberadaan organisme pengganggu tanaman terkendali dan agensi hayati terjaga
serta terhindar dari pencemaran lingkungan.
Rangkaian praktik budidaya yang baik
dan benar berdarakan Good Agriculture
Practices (GAP) meliputi kegiatan budidaya dan kegiatan panen. Pada tahap
kegiatan budidaya terdapat beberapa poin penting yang harus diperhatikan, mulai
dari pengolahan lahan, penanaman, dan pemeliharaan. Oleh karena itu, agar
kegiatan budidaya dapat dilakukan dengan baik dan maksimal, ada empat kunci
sukses yang harus dipahami dan dilaksanakan oleh seorang petani dalam praktik
budidaya.
Terdapat
4 (empat) kunci sukses yang wajib petani pahami:
1.
Lahan dan pengolahan
lahan yang baik
2.
Pupuk yang sudah
menjadi kompos
3.
Bibit unggul dan
bersertifikat
4.
Pasar
A.
Lahan
Lahan mencakup
lokasi lahan, tofografi lahan, sejarah lahan dan cara pengolahan lahan. Untuk
menentukan lokasi dan luas lahan harus mampu menentukan jenis tanaman yang mau
ditanam.
a.
Lokasi Lahan:
Lokasi lahan harus mudah dijangkau dan terdapat akses transportasi
b.
Tofografi Lahan:
Kemiringan lahan yang baik tidak lebih 30%
c.
Sejarah
Lahan/Asal Usul Lahan: Perlu menelusuri asal usul lahan, sehingga dapat
diketahui teknik pengolahan lahan yang sesuai dan kebutuhan untuk pengolahan
lahannya. Asal-usul lahan bisa berupa bekas penanaman tanaman hortikultura atau
tahunan, bisa berupa lahan tidur dan bisa berupa lahan bukaan baru.
d.
Untuk tanaman
cabai menghendaki tidak banyak naungan atau tidak banyak pohon penghalang, dan
tanah yang gembur dengan sedikit berpasir.
Teknik
pengolahan tanah yang baik dan benar untuk tanaman cabai merah adalah:
a.
Lahan dibersihkan
dari gulma, bekas ajir dan tanggul tanaman sebelumna
b.
Lahan diolah
dengan kedalaman 30 cm sampai tanah menjadi gembur.
c.
Lebar bedengan
optimal 90 cm dan minimal 80 cm
d.
Jarak antara
bedengan maksimal 60 cm dan minimal 50 cm.
e.
Tinggi bedengan
maksimal 40 cm dan minimal 30 cm
f.
Jarak tanam
untuk lebar bedengan 80 cm adalah 50x60 cm dan untuk lebar bedengan 90 cm
adalah 50x70 cm.
B.
Pupuk yang Sudah Dikomposkan
Pupuk yang sudah
dikomposkan adalah pupuk kandang yang sudah dilakukan perlakuan pengomposan
sebelum pemakaian ke lahan/bedengan. Bahan pupuk yang digunakan berupa kotoran
ayam. Kotoran ayam memiliki kelebihan diantaranya memiliki unsur hara yang
lebih tinggi, tidak banyak campuran rumput seperti kotoran sapi, campuran
berupa sekam padi yang berguna sebagai pembenah fisik dan biologi tanah.
Langkah kerja
dalam pembuatan pupuk kandang ayam menjadi pupuk kompos sebagai berikut:
a.
Kebutuhan pupuk
kandang ayam untuk 1 hektar tanaman cabai sebanyak 2000 kg
b.
Setengah dari
kebutuhan pupuk kandang (1000 kg) dituangkan diatas permukaan tanah
c.
Kemudian disiram
air bersih sambil diinjak-injak sampai tercampur namun tidak sampai airnya
mengalir.
d.
Kemudian
setengah pupuk kandang ayam sisanya (1000 kg) dituangkan di atas tumpukan
pertama, lalu disiram dan diinjak-injak sampai tercampur.
e.
Kemudian ditutup
menggunakan plastic atau terpal.
f.
Setelah 1 bulan
pupuk diaduk dan ditutup kembali
g.
Satu bulan
kemudian pupuk kompos siap digunakan.
Teknik penggunaan pupuk kandang
ayam selain dikomposkan di atas lahan dapat juga dilakukan dengan menebar pupuk
kandang ayam di atas bedengan kemudian disiram mikroba. Dosis pupuk kompos ayam
adalah 1 karung per 3 meter bedengan.
C.
Bibit
Bibit merupakan
bahan tanaman yang akan ditanaman. Dalam menentukan bibit perlu memperhatikan
hal-hal berikut ini:
a.
Merupakan bibit
unggul dan bersertifikat
b.
Harus tahu jenis
produk yang dibutuhkan di pasar atau sesuai permintaan/kebutuhan pasar.
D.
Pasar
Pasar merupakan
tempat atau tujuan disalurkannya
produksi tanaman. Sehingga dapat dikatakan bahwa pasar adalah tujuan. Oleh
karena itu perlu mengetahui perkembangan pasar dan kebutuhan pasar. Tujuan
produk tanaman apakah ke pasar tradisional, ke pasar induk, ke pasar modern, ke
swalayan, dan atau kontrak dengan pihak tertentu.
Setelah
menerapkan keempat kunci sukses bertani di atas, tentunya masih terdapat
beberapa kendala yang dapat menyebabkan produksi belum maksimal. Sehingga
petani harus mampu mengenali kendala apa saja yang menjadi factor penyebab
produksi rendah sehingga petani dapat mengatasinya. Faktor-faktor yang mempengaruhi
produksi:
1. Pola tanam yang tidak tepat: Pola tanam dengan cara
tumpang gilir dapat menekan biaya, waktu, dan tenaga.
2. Pergiliran tanaman yang kurang sesuai: Misal
pergiliran tanaman brokoli/bunga kol dengan buncis. Untuk budidaya cabai pola
pergiliran yang baik yaitu: Cabe – Brokoli – Buncis – Cabe.
3. Penanaman tanaman yang sama secara terus menerus.
Seharusnya untuk menanam tanaman yang sama harus menunggu setidaknya satu
sampai dua periode tanam.
4. Pengolahan lahan berkali-kali: Pengolahan lahan yang
sering akan menyebabkan terkikisnya unsur hara tanah, matinya mikroorganisme
dalam tanah dan membengkaknya biaya input. Sebaiknya satu kali pengolahan lahan
cukup untuk satu tahun atau lebih. Karena sekali olah lahan dapat dilakukan
penanaman tanaman yang berbeda sebanyak 8 (delapan) kali penanaman.
PANEN DAN PASCAPANEN
A.
Panen
Panen merupakan
kegiatan mengambil hasil tanaman yang sudah memenuhi kriteria panen dan sesuai
kebutuhan pasar dengan cara dipetik, dibongkar, dan dipotong. Tanaman cabe
merah keriting mulai panen pada umur tanaman 90-100 hst. Kriteria dan teknik
panen cabai merah keriting sebagai berikut:
1. Panen merah : 99-100% sudah berwarna merah tanpa ada
warna hijau
2.
Panen hijau :
99-100% masih berwarna hijau belum ada warna merah
3.
Cabe dipanen
harus dengan tangkai: Untuk mempertahankan dan menajaga daya simpan.
B.
Pascapanen
Pascapanen merupakan kegiatan yang dilakukan sebagai
upaya penanganan hasil panen sampai produk siap dipasarkan. Tujuan dilakukan
penanganan pascapanen adalah untuk menghindari kontaminasi hama dan penyakit
dari tanaman terserang dengan tanaman sehat, mempertahankan daya simpan,
meningkatkan kualitas dan menambah harga jual. Kegiatan pascapanen meliputi pembersihan,
pencucian, pemisahan atau sortasi, grading, dan pengemasan.
1.
Pembersihan:
Membersihkan buah tanaman cabe merah keriting dari dahan maupun daun yang
menempel, kotoran lain seperti percikan tanah dan hama.
2.
Pencucian:
Pencucian dilakukan untuk membersihkan sisa pestisida yang menempel, tanah,
hama dan kotoran lainnya sehingga produk lebih bersih dan menarik.
3.
Pemisahan atau
sortasi: Sortasi bertujuan untuk memisahkan buah yang rusak, layu, busuk,
terserang hama penyakit dan belum matang sempurna dengan buah yang bagus dan
sehat.
4.
Grading:
Pelaksanaan grading hampir sama dengan sortasi yaitu melakukan pemisahan.
Bedanya dengan sortasi, grading dilakukan untuk memisahkan buah berdasarkan
kualitas. Untuk cabe merah keriting, kualitas dibedakan berdasarkan ukuran, warna,
bobot dan bentuk (bengkok dan lurus). Kemudian pemisahan berdasarkan kualitas
tersebut dibedakan ke dalam tingkatan kualitas yang disebut dengan grade. Untuk
grade cabe merah keriting teridir dari tiga grade, yaitu grade A, grade B dan
grade C. Grade A untuk cabe yang lurus, sehat, merah, tidak patah dan panjang
antara 15-20 cm, garde B untuk cabe yang bengkok, sehat dan panjang antara 10-15
cm, dan garde C untuk cabe yang bengkok sekali, rusak, dan patah.
5.
Pengemasan:
Pengemasan atau packing bertujuan untuk menambah nilai dan harga jual.
Pengemasan dapat dilakukan dengan kantong plastic transparan ukuran 500 gram
dengan bobot 250 - 500 gram dan pengemasan menggunakan streoporm lalu diwraping
dengan bobot 250-500 gram.
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
STRATEGI PEMASARAN CABE MERAH KERITING
SESUAI DENGAN
GOOD MANUFACTURING PRACTICES (GMP)
STRATEGI PEMASARAN
Strategi pemasaran merupakan suatu
teknik atau cara yang dilakukan untuk menjual suatu produk ke berbagai pasar.
Pasar sebagai tujuan akhir dari suatu hasil proses produksi maka produk yang
dihasilkan harus memenuhi kriteria yang dibutuhkan pasar. Demikian juga halnya
pada produk pertanian, baik itu produk buah-buahan, sayuran daun maupun
hortikultura seperti cabe merah keriting. Agar produk cabe merah keriting dapat
dijual dengan harga yang menguntungkan harus memperhatikan strategi pemasaran
yang diterapkan. Terdapat tiga startegi pemasaran yang harus diperhatikan,
yaitu kualitas, kontiniuitas dan harga yang bersaing.
A.
Kualitas
Kualitas merupakan tingkat baik buruknya, derajat
atau taraf mutu suatu produk. Sehingga harga produk tersebut dapat dipengaruhi
oleh kualitas atau mutu produk. Sama halnya dengan cabe merah keriting, semakin
bagus kualitasnya maka semakin baik harganya. Kualitas juga dapat diartikan
sebagai suatu standard produk yang ditentukan berdasarkan kualifikasi hasil
sortasi dan grading terhadap cabe merah keriting.
Pelaksanaan sortasi dan grading dapat memisahkan
cabe merah keriting yang berkualitas baik, sedang dan rendah. Dengan perbedaan
kualitas tersebut, semua tingkatan harga pasar dapat dipenuhi. Perbedaan
kualitas cabe merah keriting dapat digolongkan kepada tiga taraf atau
tingkatan, yaitu grade A (kualitas baik), grade B (kualitas sedang) dan garde C
(kualitas rendah). Misalnya untuk cabe merah keriting dengan kualitas baik
dapat dipasarkan ke pasar modern, swalayan maupun ke bazar dengan harga yang
lebih tinggi. Cabe merah keriting dengan kualitas sedang dapat dipasarkan ke
pasar induk dengan harga yang lebih bersaing. Sedangkan cabe merah keriting dengan
kualitas buruk dapat dipasarkan ke pasar tradisional dengan harga pasar saat
itu.
Dengan demikian akan diperoleh keuntungan yang lebih
besar dibandingkan tanpa melakukan pengklasifikasian kualitas. Karena tanpa
adanya pembedaan kualitas maka produk cabe merah keriting hanya dapat
dipasarkan ke pasar tradisional dengan harga pasar saat itu.
B.
Kontiniuitas
Kontiniuitas merupakan suatu system berkelanjutan
yang konsisten. Kontiniuitas produksi merupakan proses produksi yang
berkelanjutan dengan kuantitas dan dalam jangka waktu tertentu. Dengan adanya
kontiniuitas produksi maka kebutuhan pasar dapat dipenuhi setiap saat.
Supaya kontiniuitas produksi dapat dipertahankan,
maka perlu membuat perencanaan program tanam yang disusun dalam bentuk kalender
tanam. Melalui kalender tanam, produksi tanaman dapat diatur sehingga produksi
tidak terputus dan tetap berlanjut.
Kontiniuitas produksi dalam memenuhi kebutuhan pasar
dapat diterapkan melalui kerjasama, bermitra maupun kontrak dengan offtaker. Dalam menjalin hubungan
kerjasama pasar terkait kontiniuitas produksi, seorang petani tidak boleh
mengatakan bahwa untuk memenuhi permintaan dapat dilakukan dengan mengumpulkan
atau membeli dari petani lain. Namun teknik yang sebaiknya yaitu dengan
menyampaikan bahwa terdapat petani binaan yang sudah diatur penanamannya
berdasarkan kalender tanam.
C.
Harga Yang Bersaing
Harga yang bersaing yang dimaksud adalah bahwa harga
produk yang dihasilkan dapat ditetapkan sendiri bahkan lebih tinggi dari harga
pasar saat itu. Harga yang bersaing dapat diperoleh apabila produk memiliki
kualitas, dan memiliki petani dan anggota. Kualitas produk dengan pembagian
grade A, B dan C dapat meningkatkan harga jual dari harga di pasaran. Peran
petani dan anggota untuk memperoleh harga yang bersaing adalah untuk
mempertahankan kontiniuitas produksi sehingga keberadaan produk di pasar tidak
terputus dan harga bisa bertahan.
RANCANGAN ANGGARAN BIAYA (RAB)
BUDIDAYA TANAMAN CABE MERAH KERITING
Rancangan Anggaran Biaya (RAB)
merupakan perhitungan besaran biaya yang dibutuhkan dan akan dianggarkan dalam
suatu kegiatan yang akan datang. Tujuan pembuatan RAB adalah untuk mengetahui
secara pasti besaran biaya yang harus dipersiapkan. Fungsi RAB adalah sebagai
pedoman pelaksanaan pekerjaan dan sebagai alat pengontrol pelaksanaan
pekerjaan.
Rancangan Anggaran Biaya untuk
kegiatan budidaya tanaman cabe merah keriting memiliki tujuan untuk
memperhitungkan besaran biaya yang diperlukan untuk keseluruhan jenis belanja,
baik belanja bahan, peralatan, sewa, upah dan biaya lainnya. Perhitungan
rancangan anggaran biaya dibuat berdasarkan jenis komoditas, jangka waktu pelaksanaan
dan luasan lahan. Jangka waktu pelaksanaan adalah satu siklus periode tanam
cabe merah keriting atau berkisar 180 hari, dan luasan lahan yang digunakan
adalah satu hektar. Estimasi jumlah tanaman cabe merah keriting dalam satu
hektar lahan adalah 20.000 (dua puluh ribu) pohon. Melalui perhitungan RAB dapat
diperoleh berapa besaran harga pokok penjualan (HPP) untuk satu tanaman cabe
merah keriting.
Komponen anggaran yang dihitung
dalam pembuatan RAB budidaya cabe merah keriting meliputi biaya tetap, biaya
variable, biaya upah, biaya tak terduga, estimasi hasil panen, estimasi
pendapatan, keuntungan dan B/C Rasio. Biaya tetap mecakup biaya untuk sewa
lahan, bibit, pupuk kandang, mulsa plastic dan ajir. Biaya variable mencakup
biaya untuk pengolahan lahan, pupuk daun dan pestisida, dan nutrisi. Sedangkan
biaya upah mencakup biaya tanam dan pemeliharaan dan biaya panen masuk dalam
komponen estimasi hasil panen.
A.
Biaya Tetap
Biaya tetap merupakan biaya konstan yang besarannya
tidak berubah dan tidak tergantung pada tingkat produksi maupun jasa yang
dihasilkan. Biaya tetap biasanya memiliki nilai yang sama untuk beberapa
periode dalam jangka waktu satu tahun. Jenis-jenis pembiayaan yang tergolong
dalam biaya tetap dalam kegiatan budidaya cabe merah keriting meliputi biaya
sewa lahan, biaya bibit, biaya puuk kandang ayam, biaya plastik mulsa dan biaya
ajir.
1.
Sewa Lahan; Sewa
lahan dihitung berdasarkan luas lahan dalam jangka waktu satu tahun. Biaya sewa
lahan per hektar sebesar Rp.25.000.000,-.
2.
Bibit Cabe Merah
Keriting; Bibit yang digunakan merupakan bibit jadi atau siap tanam. Kebutuhan
bibit untuk satu hektar lahan dengan estimasi jumlah lobang tanam 20.000 adalah
sebanyak 12 pack dengan harga sebesar Rp.140.000 per pack. Sehingga biaya bibit
cabe merah keriting yang dikeluarkan sebesar Rp.1.680.000,-.
3.
Pupuk Kandang
Ayam; Kebutuhan pupuk kandang ayam untuk lahan satu hektar sebanyak 2.000
karung dengan harga per karung sebesar Rp.12.000,- sehingga biaya pupuk kandang
per hektar sebesar Rp.24.000.000,-.
4.
Mulsa Plastik;
Jumlah plastik mulsa yang dibutuhkan dalam satu hektar lahan sebanyak 10 roll
dengan harga per roll sebesar Rp.720.000,- sehingga kebutuhan biaya mulsa
plastik per hektar sebesar Rp.7.200.000,-.
5.
Ajir; Ajir yang
digunakan merupakan ajir bamboo dengan panjang 120 cm. Kebutuhan ajir untuk
tanaman cabe merah keriting per hektar sebanyak 12.000 batang dengan harga
Rp.500,- per batang, sehingga jumlah biaya untuk pembelian ajir sebesar
Rp.6.000.000,- per hektar.
B.
Biaya Variabel
Biaya variable merupakan biaya yang bersifat dinamis
dan dapat berubah ubah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Pada kondisi
tertentu biaya variable bisa tidak dibutuhkan, bisa berkurang dan bisa
bertambah. Komponen biaya variable dalam budidaya cabe merah keriting meliputi
biaya pengolahan lahan, biaya pupuk daun dan pestisida dan biaya nutrisi
susulan. Biaya upah tenaga kerja dapat digolongkan kepada biaya variable, namun
untuk memperoleh perhitungan tersendiri maka dibuat jenis biaya tersendiri di
luar biaya variable.
1.
Pengolahan
lahan; Sistem pembiayaan pengolahan lahan budidaya cabe merah keriting adalah
borongan. Rincian kegiatan pengolahan lahan yang diborongkan meliputi
pembersihan lahan, pengolahan tanah, pembuatan bedengan, pencampuran pupuk
kandang ayam di atas bedengan, perapihan bedengan, pemasangan mulsa dan
pembuatan lobang tanam. Perhitungan biaya borongan pengolahan lahan yaitu
dengan satuan roll mulsa. Biaya pengolahan lahan untuk satu roll mulsa sebesar
Rp.2.500.000,-. Kebutuhan mulsa per hektar mencapai 10 roll, sehingga biaya
pengolahan lahan per hektar sebesar Rp.25.000.000,-.
2.
Pupuk Daun dan
Pestisida; Perhitungan buaya pembelian pupuk daun dan pestisida tergantung umur
tanaman dan interval penyemprotan yang dilakukan. Umur tanaman cabe merah
keriting dari tanam hingga selesai atau produksi habis mencapai 180 hari yang
terdiri dari umur tanaman sejak tanam sampai panen selama 90-100 hari dan masa
panen selama 80-90 hari. Kegiatan penyemprotan pupuk daun dan pestisida
dilakukan dengan interval 10 hari sekali sejak tanam sampai 20 hari menjelang
produksi habis. Dari umur tanaman selama 180 hari dikurangi 20 hari menjelang
selesai maka sisa umur tanaman yang dilakukan penyemprotan adalah 160 hari.
Dengan demikian banyaknya penyemprotan dengan interval 10 hari adalah sebanyak
16 kali.
Kebutuhan volume
semprot pupuk daun dan pestisida per hektar untuk sekali penyemprotan rata-rata
sebanyak 800 liter. Volume semprot sejak awal tanam sampai panen biasanya
bertahap meningkat, pada awal tanam volume semprot sebanyak 200 liter hingga
menjelang akhir produksi mencapai 1000-1200 liter per hektar.
Dari rata-rata volume
penyemprotan 800 liter per hektar dengan menggunakan media drum bervolume 200
liter membutuhkan 4 drum per sekali penyemprotan. Sehingga untuk satu periode
tanam dengan intensitas penyemprotan sebanyak 16 kali maka membutuhkan 64 drum.
Biaya pupuk daun dan pestisida yang diperlukan per drum sebesar Rp.420.000,-
dengan rincian untuk fungisida sebesar Rp.150.000,- per drum, untuk insektisida
sebesar Rp.200.000,- per drum dan pupuk daun sebesar Rp.70.000,- per drum.
Sehingga jumlah biaya pupuk daun dan pestisida dalam satu periode tanam sebesar
Rp.26.880.000,- .
3.
Biaya Nutrisi
Susulan; Nutrisi susulan yang digunakan adalah pupuk kimia NPK 16:16:16.
Pemberian pupuk NPK sebagai nutrisi susulan bersifat variable tergantung
pertumbuhan dan perkembangan tanam atau sesuai kebutuhan. Pemberian nutrisi
susulan dilakukan dengan cara dikocor dengan dosis 200 ml per batang. Untuk
satu hektar lahan dengan populasi 20.000 batang membutuhkan 4.000.000 ml atau
setara dengan 4.000 liter pupuk kocor (20 drum).
Pemberian nutrisi
susulan dilakukan dengan interval 10 hari sekali sejak tanam sampai 30 hari
menjelang akhir umur tanaman. Sehingga sisa waktu pemberian nutrisi susulan
adalah selama 150 hari dengan intensitas pemberian nutrisi susulan sebanyak 15
kali. Sehingga untuk satu musim tanam
membutuhkan 300 drum pupuk kocor.
Kebutuhan pupuk NPK per
drum sebanyak 5 kg, maka jumlah pupuk NPK yang dibutuhkan setiap kali
pengocoran sebanyak 100 kg dan untuk satu periode tanam dengan intensitas 15
kali pengocoran membutuhkan sebanyak 1.500 kg atau 1.5 ton pupuk NPK.
Kebutuhan buaya
pemberian nutrisi susulan per hektar per periode tanam sebesar Rp.24.000.000,-
dengan rincian harga pupuk NPK 16:16:16 per kilo gram sebesar Rp.16.000,- dan
per sekali pengocoran sebesar Rp.1.600.000,-
C.
Biaya Upah Tenaga Kerja
Biaya upah tenaga kerja merupakan biaya yang
dikeluarkan untuk pekerja yang melaksanakan pekerjaan selama budidaya tanaman
cabe merah keriting sejak tanam dan selama pemeliharaan. Kegiatan pemeliharaan
yang membutuhkan biaya upah tenaga kerja meliputi pemasangan ajir, pengikatan
ajir, pembuangan tunas air, penyiangan, penyemprotan dan pengocoran.
1.
Penanaman;
Kegiatan penanaman dilakukan oleh pekerja wanita sebanyak 10 hari kerja wanita
(hkw). Kemampuan pekerja wanita menanam tanaman cabe merah keriting sebanyak
200 batang/hari/orang, sehingga cukup 10 hkw untuk menanam 20.000 tanaman per
hektar. Upah tenaga kerja wanita per hkw sebesar Rp.60.000,- sehingga total
upah penanaman sebesar Rp.600.000,-.
2.
Pemasangan Ajir;
Pemasangan ajir dilakukan oleh pekerja pria selama 7 hari kerja pria (hkp).
Kemampuan pekerja pria memasang ajir sebanyak 3.000 lobang/hari/orang, sehingga
cukup 7 hkp untuk memasang ajir per hektar/hari. Upah tenaga kerja pria per hkp
sebesar Rp.100.000,- sehingga total upah pemasangan ajir per hektar sebesar
Rp.700.000,-.
3.
Pengikatan Ajir;
Pengikatan ajir dilakukan oleh pekerja wanita dengan kemapuan mengikat ajir per
orang sebanyak 2000 batang, sehingga untuk mengikat 20.000 batang tanaman cabe
merah keriting butuh 10 hkw. Upah tenaga kerja per hkw sebesar Rp.60.000,-
dengan total upah pengikatan ajir sebesar Rp.600.000,-.
4.
Pembuangan Tunas
Air; Pembuangan tunas air dilakukan sebanyak dau kali oleh pekerja wanita
sebanyak 12 hkw per sekali pembuangan tunas air, sehingga butuh 24 hkw untuk
dua kali pembuangan tunas air. Upah tenaga kerja per hkw sebesar Rp.60.000,-
dengan total upah pembuangan tunas air sebesar Rp.1.440.000,-.
5.
Penyiangan
Gulma; Kegiatan penyiangan gulma dalam satu periode tanam dilakukan sebanyak
tiga kali. Sekali penyiangan membutuhkan 10 hkw dengan upah sebesar Rp.60.000
per hkw. Sehingga total biaya upah penyiangan gulma untuk tiga kali pelaksanaan
sebesar Rp.1.800.000,-.
6.
Penyemprotan;
Penyemprotan pupuk daun dan pestisida dilakukan menggunakan mesin dan
membutuhkan 5 orang hkp per hektar. Dengan rincian tugas dua orang melakukan
penyemprotan, dua orang menarik selang dan satu orang mengontrol mesin dan
drum. Untuk intensitas penyemprotan sebanyak 16 kali membutuhkan 80 hkp dengan
upah sebesar Rp.100.000,- per hkp, maka total upah penyemprotan keseluruhan
sebesar Rp.8.000.000,-.
7.
Pengocoran
Nutrisi Susulan; Kegiatan pengocoran membutuhkan tenaga kerja sebanyak 5 hkp
per sekali pengocoran. Intensitas pengocoran dalam satu kali periode tanam
sebanyak 15 kali sehingga membutuhkan 75 hkp. Upah tenaga kerja per hkp sebesar
Rp.100.000,- sehingga dalam satu periode tanam biaya upah pengocoran sebesar
Rp.7.500.000,-.
8.
Biaya Bahan
Bakar Mesin; Biaya bahan bakar mesin dihitung untuk keperluan penyemprotan dan
pengocoran. Kebutuhan bahan bakar per hari sebanyak 2 liter dengan harga
sebesar Rp.15.000,- per liter sehingga biaya per hari sebesar Rp.30.000,-.
Intensitas penyemprotan dan pengocoran dalam satu periode tanam sebanyak 31
kali sehingga total biaya bahan bakar sebesar Rp.930.000,-.
D.
Biaya Tidak Terduga
Biaya tidak terduga merupakan biaya yang
pengeluarannya di luar perencanaan. Besaran biaya tidak terduga sebesar
Rp.5.000.000,-.
E.
Estimasi Hasil Panen
Estimasi hasil panen merupakan estimasi banyaknya
hasil panen dikali harga jual, biaya
panen dan biaya rijek.
1.
Estimasi
produksi dan penjualan; Produksi tanaman cabe merah keriting per hektar
mencapai 20 ton dengan estimasi 1 kg/pohon. Harga jual cabe merah keriting per
kg sebesar Rp.23.400,- sehingga total penjulan 20 ton cabe merah keriting
sebesar Rp.468.000.000,-.
2.
Biaya panen;
Biaya panen mencakup biaya upah pada saat panen, biaya wadah dan biaya upah
angkut. Besaran biaya panen per kg sebesar Rp.3.000,- sehingga total biaya
panen 20 ton sebesar Rp.60.000.000,-.
3.
Biaya rijek;
Biaya rijek merupakan selisih harga jual normal dengan harga jual rijek
dikalikan jumlah rijekan. Besaran rijek cabe merah keriting mencapai 15% dari
total produksi sehingga jumlah rijek sebanyak 1.5 ton. Harga jual rijek sebesar
Rp.10.000,-, maka selisih harga jual normal dengan hara jual rijek sebesar
Rp.13.400,-. Jadi total biaya rijek sebanyak 1.5 ton dikali harga Rp.13.400,-
adalah sebesar Rp.20.100.000,-.
F.
Estimasi Pendapatan
Estimasi pendapatan diperoleh dari penjumlahan
estimasi produksi dan penjulan dikurangi biaya panen dan biaya rijek. Sehingga
diperoleh estimasi pendapatan sebesar Rp.468.000.000 – Rp.60.000.000 –
Rp.20.100.000 sama dengan Rp.387.900.000,-.
G.
Keuntungan/Laba
Keuntungan atau laba diperoleh dari total pendapatan
dikurangi seluruh biaya. Jadi jumlah keuntungan adalah sebesar Rp.387.750.000 –
166.270.000 sama dengan Rp.221.630.000,-
H.
B/C Rasio
Nilai rasio antara keuntungan dan biaya sebesar
Rp.221.630.000 / Rp. 166.270.000 sama dengan 1.33. Nilai B/C Rasio yang
diperoleh sebesar 1.33 lebih besar dari 1 (1.33>1) menandakan bahwa kegiatan
budidaya cabe merah keriting menguntungkan dapat dapat dilaksanakan.
Tabel
Rancangan Anggaran Biaya Budidaya Cabe Merah Keriting Satu Siklus Tanam dengan
satuan luas lahan satu hektar.
|
No |
Komponen
Anggaran |
Volume |
Satuan |
Harga/Biaya
Satuan |
Jumlah |
Total |
|
|
1 |
BIAYA
TETAP |
||||||
|
a |
Sewa Lahan |
1 |
Ha |
25,000,000
|
25,000,000 |
||
|
b |
Bibit Cabe
Merah Keriting (CMK) |
12 |
Pack |
135,000 |
1,620,000 |
||
|
c |
Pupuk Kandang
Ayam |
2000 |
Karung |
12,000 |
24,000,000 |
||
|
d |
Mulsa Plastik |
10 |
Roll |
720,000 |
7,200,000 |
||
|
e |
Ajir Bambu |
12000 |
Batang |
500 |
6,000,000 |
||
|
Jumlah |
63,820,000 |
|
|||||
|
2 |
BIAYA VARIABEL |
||||||
|
a |
Pengolahan
Lahan (Borongan) |
10 |
Roll |
2,500,000 |
25,000,000 |
||
|
b |
Pestisida dan
Pupuk Daun |
||||||
|
a. Fungisida |
64 |
Drum |
150,000 |
9,600,000 |
|||
|
b. Insektisida |
64 |
Drum |
200,000 |
12,800,000 |
|||
|
c. Pupuk Daun |
64 |
Drum |
70,000 |
4,480,000 |
|||
|
c |
Nutrisi
Susulan/NPK |
1500 |
Kg |
16,000 |
24,000,000 |
||
|
Jumlah |
75,880,000 |
|
|||||
|
3 |
BIAYA UPAH
PEMELIHARAAN |
|
|||||
|
a |
Penanaman (HKW) |
10 |
Orang |
50,000 |
500,000 |
||
|
b |
Pemasangan Ajir
(HKP) |
7 |
Orang |
100,000 |
700,000 |
||
|
c |
Mengikat
Tanaman Cabai (HKW) |
10 |
Orang |
60,000 |
600,000 |
||
|
d |
Pembuangan
Tunas Air (HKW) |
24 |
Orang |
60,000 |
1,440,000 |
||
|
e |
Penyiangan
Gulma (HKW) |
30 |
Orang |
60,000 |
1,800,000 |
||
|
f |
Penyemprotan |
80 |
Orang |
100,000 |
8,000,000 |
||
|
g |
Pemupukan/Pengocoran
|
75 |
Orang |
100,000
|
7,500,000 |
||
|
|
h |
Biaya bahan
bakar |
62 |
Liter |
15,000 |
930,000 |
|
|
Jumlah |
21,570,000 |
||||||
|
4 |
BIAYA TIDAK
TERDUGA |
5,000,000 |
|
||||
|
TOTAL BIAYA |
166,270,000
|
||||||
|
5 |
ESTIMASI HASIL
PANEN |
||||||
|
a |
Produksi Per
Pohon 1 Kg |
20000 |
Kg |
23,400
|
468,000,000 |
||
|
- Biaya Panen |
20000 |
Kg |
3,000 |
60,000,000 |
|||
|
- Biaya Rejek
15% |
1500 |
Kg |
13,400
|
20,100,000 |
|||
|
6 |
ESTIMASI
PENDAPATAN |
|
|||||
|
a |
Estimasi Hasil
Panen - Biaya Panen - Biaya Rejek |
387,900,000 |
|||||
|
7 |
KEUNTUNGAN/LABA |
||||||
|
a |
Pendapatan-Total
Biaya |
221,630,000 |
|||||
|
8 |
B/C RASIO |
||||||
|
a |
Keuntungan/Total
Biaya |
1.33 |
|||||
BIODATA PENULIS
Penulis menempuh pendidikan di SDN Desa Simardona
tahun 2008-2014, lanjut ke MTs Swasta PonPes Modern Baharuddin Tapanuli Selatan
2014-2017, lanjut ke SPP/SPMA Negeri Tapanuli Selatan 2017-2010, dan menempuh
pendidikan S1 di Universitas Graha Nusantara Padangsidimpuan 2010-2017 dengan
gelas Sarjana Pertanian. Saat ini menempuh pendidikan Vokasi (DIV) di
Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor dari tahun 2021, mengambil
Program Studi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan (Semester IV).
Penulis menikah pada tahun 2018, dan sudah
dikaruniai satu anak. Pada saat ini penulis masih aktif bekerja di Balai
Penerapan Standar Instrumen Pertanian (BPSIP) Kepulauan Riau sejak tahun 2015.
Mengutip jargon pak Ulus Pirmawan “AKU BISA, HARUS BISA PASTI BISA”.
Terimakasih….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar