Rabu, 19 Juni 2024

MENGOBATI RINDU ANAK ISTRI

 Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatu

Salam pembuka, semoga Ridho Allah Subhana Wata'ala senantiasa menyertai setiap hembusan nafas kita. Aamiin.

Pada hari ini, Rabu, 12 Juni 2024, lampu digital yang berbentuk angka tepat di atas antara dua kursi penumpang paling depan, persisnya di atas lorong jalan menuju sopir dari tempat saya duduk menunjukkan angka 19.05 WIB, saat itu pulalah saya memulai menulis cerita ini.

Kali ini saya ingin menceritakan gambaran kebahagiaan yang saya alami saat ini, karena pada malam ini Allah Ridhoi saya melakukan sebuah perjalan untuk mengobati rindu pada anak dan istri.

Malam ini saya memulai perjalanan dari rumah mungin yang saya dan dua orang teman saya kontrak bersama pada pukul 18.10. Saya diantar salah seorang teman saya ke simpang jalan untuk menunggu bus keberangkatan 18.30 WIB. Sesuai jadwal saya pun mulai naik bus dan memilih duduk di kursi sebelah kanan dekat jendela, kira-kira 4 kursi antara saya dengan sopir.



Perjalanan ini dimulai dari Kabupaten Kuningan tepatnya Desa Bandorasa Wetan Kecamatan Cilimus menuju Lebak Bulus kemudian melanjutkan ke Bandara Sukarno Hata langsung ke Tanjungpinang.

Agenda kepulangan saya ini, selain untuk mengobati rindu pada keluarga kecil saya yang tinggalnya berpisah untuk beberapa bulan lamanya, juga untuk menghadiri kegiatan sekolah anak saya dan tentunya merayakan hari raya Idul Adha bersama keluarga di rumah.

Sebelum keberangkatan ini, saya mengalami tiga momen yang menjadi pelajaran buat saya. Memang, jauh-jauh hari rencana perjalan ini sudah saya pikirkan dan sudah dibicarakan bersama istri. Namun karena kendala biaya (harga tiket pesawat) yang mahal menjadi salah satu pembahasan penting, kedua terkait perizinan.


Kamis, 25 Januari 2024

EVALUASI PENYULUHAN PERTANIAN (Kompetensi Penyuluh Pertanian)


Evaluasi Penyuluhan Pertanian

Evaluasi merupakan suatu kegiatan yang penting bila dilihat dari segi manfaat sebagai upaya memperbaiki dan penyempurnaan program atau kegiatan penyuluhan pertanian sehingga lebih efektif, efisien dan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Kusnadi 2011). Evaluasi penyuluhan pertanian dapat digunakan untuk memperbaiki perencanaan kegiatan atau program penyuluhan dan kinerja penyuluh, mempertanggungjawabkan kegiatan yang dilaksanakan, membandingkan antara kegiatan dan tujuan yang telah ditetapkan (Padmowihardjo 2002).

Evaluasi penyuluhan pertanian adalah kegiatan untuk menilai suatu program penyuluhan pertanian. Evaluasi penyuluhan pertanian dilakukan dengan proses pengumpulan data, penentuan ukuran, penilean serta perumusan keputusan yang digunakan untuk perbaikan atau penyempurnaan perencanaan berikutnya yang lebih lanjut demi tercapainya tujuan dari program penyuluhan pertanian (Farid et al. 2016).

Evaluasi program merupakan suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan sengaja untuk melihat tingkat keberhasilan program. Untuk melihat tercapai atau tidaknya suatu program yang sudah berjalan diperlukan kegiatan evaluasi (Farid et al. 2016).

Ruang Lingkup Evaluasi

Manfaat evaluasi penyuluhan yaitu selain untuk menentukan tingkat perubahan perilaku petani setelah penyuluhan, juga diperoleh pertimbangan - pertimbangan untuk perbaikan program dan penyempurnaan kebijaksanaan penyuluhan pertanian masa mendatang (Anwarudin et al. 2021). Lanjutnya bahwa kegiatan evaluasi penyuluhan tidak berfokus pada evaluasi hasil, tetapi menyangkut evaluasi metode dan sarana-prasarana kegiatan penyuluhan pertanian.

Ruang lingkup evaluasi penyuluhan pertanian menurut Anwarudin et al. (2021) meliputi: a). Evaluasi hasil, yaitu mengevaluasi tingkat pencapaian tujuan yang ditandai dengan perubahan perilaku dan anggota keluarga dalam mengadopsi inovasi yang disampaikan; b). Evaluasi metode, yaitu evaluasi terhadap metode atau kegiatan-kegiatan penyuluhan yang dilakukan oleh penyuluh dalam rangka mencapai tujuan; c). Evaluasi sarana dan prasarana, yaitu evaluasi terhadap ketersediaan dan kebermanfaatan sarana dan prasaranan pendukung kegiatan penyuluhan dalam rangka mencapai tujuan penyuluhan pertanian.

Prinsip Evaluasi

Prinsip evaluasi yang dilakukan harus memenuhi prinsip SMART (Specific, Measurable, Actionary, Realistic, and Time Frame) dan ABCD (Audition, Behaviour, Condition and Degree). Mardikanto (2009), bahwa kegiatan evaluasi harus memperhatikan prinsip- prinsip evaluasi yaitu:

1.        Kegiatan evaluasi harus merupakan bagian integral yang tak terpisahkan dari kegiatan perencanaan program yaitu yang selaras dengan tujuan yang ingin dicapai.

2.        Setiap evaluasi harus memenuhi persyaratan :

a.       Obyektif, artinya selalu berdasarkan pada fakta.

b.      Menggunakan pedoman tertentu yang telah dibakukan (standar).

c.       Menggunakan metoda pengumpulan data yang tepat dan teliti.

3.        Setiap evaluasi, harus menggunakan alat ukur yang berbeda untuk mengukur tujuan evaluasi yang berbeda pula.

4.        Evaluasi harus dinyatakan dalam bentuk :

a.       Data kuantitatif, agar dengan jelas dapat diketahui tingkat pencapaian tujuan dan tingkat penyimpangan pelaksanaannya.

b.      Uraian kualitataif, agar dapat diketahui faktor-faktor; penentu keberhasilan, penyebab kegagalan, dan faktor penunjang serta penghambat keberhasilan tujuan program yang direncanakan.

5.        Evaluasi harus efektif dan efisien, artinya :

a.       Evaluasi harus menghasilkan temuan-temuan yang dapat dipakai untuk meningkatkan efektivitas (tercapainya tujuan) program.

b.      Evaluasi harus mempertimbangkan ketersediaan sumberdayanya sehingga tidak terjebak pada kegiatan-kegiatan yang terlalu rinci, tetapi tidak banyak manfaatnya bagi tercapainya tujuan, melainkan harus dipusatkan pada kegiatan-kegiatan yang strategis.

Instrumen Evaluasi

Penggunaan instrumen atau yang lebih dikenal dengan alat ukur merupakan langkah penting dalam melaksanakan kegiatan evaluasi karena akan menentukan keberhasilan dalam proses evaluasi. Instrumen memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan mutu suatu penelitian ataupun evaluasi, karena validitas atau kesahihan data yang diperoleh akan sangat ditentukan oleh kualitas atau validitas instrumen yang digunakan (Anwarudin et al. 2021).

Persyaratan dalam penyusunan alat ukur yang baik adalah:

1.    Absah atau sahih (validity); suatu alat ukur dinyatakan sahih apabila dapat mengukur apa yang seharusnya diukur.

2.        Dapat dipercaya (reliability); hasil evaluasi penyuluhan pertanian harus dapat dipercaya.

3.        Objektif (objectivity); hasil penyuluhan pertanian harus objektif, artinya tidak ada unsur memihak.

4.        Praktis; dapat digunakan dengan mudah dan efektif.

5.        Sederhana; tidak rumit atau berbelit belit, singkat tetapi jelas.

Instrumen berfungsi mengungkapkan fakta menjadi data, sehingga apabila instrumen yang dipakai memiliki kualitas yang valid dan reliabel maka data yang diperoleh akan sesuai dengan fakta atau keadaan sesungguhnya di lapangan. Sedangkan jika kualitas instrumen yang dipakai mempunyai validitas dan reliabilitas yang rendah, maka data yang diperoleh juga tidak valid atau tidak sesuai dengan fakta di lapangan, sehingga dapat menghasilkan kesimpulan yang keliru.

Kisi-kisi Instrumen

Variabel merupakan sebagai unit-unit relasional dari analisis yang memikul salah satu kumpulan nilai yang ditunjuk. Indikator merupakan besaran/nilai yang menggambarkan suatu fenomena atau keadaan, atau mengidentifikasi hubungan antara berbagai elemen. Parameter secara umum adalah ukuran yang menjadi dasar penilaian atau penetapan sesuatu (Mushapudin 2018). Sedangkan skala pengukuran merupakan aturan-aturan pemberian angka untuk berbagai objek sedemikian rupa, sehingga angka ini mewakili kualitas atribut.

Instrumen penelitian digunakan untuk mengukur nilai variabel yang diteliti. Dengan demikian jumlah instrumen yang akan digunakan untuk penelitian tergantung pada variabel yang diteliti. Karena instrumen penelitian akan digunakan untuk melakukan pengukuran dengan tujuan menghasilkan data kuantitatif yang akurat, maka setiap instrumen harus mempunyai skala.

Berikut skala pengukuran yang digunakan pada evaluasi penyuluhan pertanian.

1.        Skala Likert adalah skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dengan skala Likert, variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indokator variabel. Indikator tersebut digunakan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pertanyaan maupun penyataan. Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan skala Likert mempunya gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat berupa kata-kata. Contoh jawaban instrumen: sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, sangat tidak setuju. Setiap jawaban instrumen harus memiliki skor. Dari skor tersebut akan diketahui hasil tertinggi hingga terendah.

2.        Skala Nilai/Rating scale, merupakan pengukuran menggunakan data mentah yang diperoleh berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif (Sugiyono 2011). Pengukuran dengan skala rating scale sifatnya lebih fleksibel, tidak terbatas untuk mengukur sikap saja tetapi untuk mengukur persepsi responden terhadap fenomena lainnya, seperti skala untuk mengukur status sosial ekonomi, kelembagaan, pengetahuan, kemampuan, proses kegiatan dan lain-lain.


Daftar Pustaka

Anwarudin O, Fitriana L, Defriyanti WT, Permatasari P, Rusdiyana E, Zain KM, Jannah EN, Sugiarto M, Nurlina, Haryanto Y. 2021. Sistem Penyuluhan Pertanian. Manokwari: Yayasan Kita Menulis.

Chaeruman N, Batubara SF, Aryati V, Jonharnas, Helmi. 2022. Peluang Pengembangan Inpari IR Nutri Zinc dan Perbenihan Padi di Sumatra Utara. Jurnal Agrikultura. 33(3):390-401.

Farid A, Romadi U, Sawitri B, Wandansari NR. 2016. Modul Evaluasi Penyuluhan Pertanian. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Malang. Malang.

Kusnadi Dedy. 2011. Modul Dasar-Dasar Penyuluhan Pertanian. Bogor: Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian.

Padmowihardjo S. 2014. Pendidikan Orang Dewasa. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.

Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.


Empat Kunci Sukses BUDIDAYA CABE MERAH KERITING Sesuai dengan SOP, GAP, GHP dan GMP

 



STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)

BUDIDAYA TANAMAN CABE MERAH KERITING

SESUAI DENGAN

PRAKTIK BUDIDAYA YANG BAIK DAN BENAR

GOOD AGRICULTURE PRACTICES (GAP)

PENANGANAN PASCAPANEN

 GOOD HANDALING PRACTICES (GHP)

 

BUDIDAYA

            Praktik budidaya yang baik dan benar dilakukan dengan memperhatikan keseluruhan tahapan budidaya mulai dari lahan sampai panen. Praktik budidaya tersebut dilakukan dengan prinsip ekologi yang dapat menjaga kelestarian sumberdaya hayati dan kesehatan pangan. Dengan demikian praktik budidaya tersebut menggunakan input yang aman dan terjamin sehingga keberlangsungan kegiatan budidaya tetap terjaga. Dampak yang didapatkan akan bernilai positif, diantaranya kesuburan tanah terjaga, keberadaan organisme pengganggu tanaman terkendali dan agensi hayati terjaga serta terhindar dari pencemaran lingkungan.

            Rangkaian praktik budidaya yang baik dan benar berdarakan Good Agriculture Practices (GAP) meliputi kegiatan budidaya dan kegiatan panen. Pada tahap kegiatan budidaya terdapat beberapa poin penting yang harus diperhatikan, mulai dari pengolahan lahan, penanaman, dan pemeliharaan. Oleh karena itu, agar kegiatan budidaya dapat dilakukan dengan baik dan maksimal, ada empat kunci sukses yang harus dipahami dan dilaksanakan oleh seorang petani dalam praktik budidaya.

            Terdapat 4 (empat) kunci sukses yang wajib petani pahami:

1.      Lahan dan pengolahan lahan yang baik

2.      Pupuk yang sudah menjadi kompos

3.      Bibit unggul dan bersertifikat

4.      Pasar

A.    Lahan

Lahan mencakup lokasi lahan, tofografi lahan, sejarah lahan dan cara pengolahan lahan. Untuk menentukan lokasi dan luas lahan harus mampu menentukan jenis tanaman yang mau ditanam.

a.       Lokasi Lahan: Lokasi lahan harus mudah dijangkau dan terdapat akses transportasi

b.      Tofografi Lahan: Kemiringan lahan yang baik tidak lebih 30%

c.       Sejarah Lahan/Asal Usul Lahan: Perlu menelusuri asal usul lahan, sehingga dapat diketahui teknik pengolahan lahan yang sesuai dan kebutuhan untuk pengolahan lahannya. Asal-usul lahan bisa berupa bekas penanaman tanaman hortikultura atau tahunan, bisa berupa lahan tidur dan bisa berupa lahan bukaan baru.

d.      Untuk tanaman cabai menghendaki tidak banyak naungan atau tidak banyak pohon penghalang, dan tanah yang gembur dengan sedikit berpasir.

Teknik pengolahan tanah yang baik dan benar untuk tanaman cabai merah adalah:

a.       Lahan dibersihkan dari gulma, bekas ajir dan tanggul tanaman sebelumna

b.      Lahan diolah dengan kedalaman 30 cm sampai tanah menjadi gembur.

c.       Lebar bedengan optimal 90 cm dan minimal 80 cm

d.      Jarak antara bedengan maksimal 60 cm dan minimal 50 cm.

e.       Tinggi bedengan maksimal 40 cm dan minimal 30 cm

f.       Jarak tanam untuk lebar bedengan 80 cm adalah 50x60 cm dan untuk lebar bedengan 90 cm adalah 50x70 cm.

B.     Pupuk yang Sudah Dikomposkan

Pupuk yang sudah dikomposkan adalah pupuk kandang yang sudah dilakukan perlakuan pengomposan sebelum pemakaian ke lahan/bedengan. Bahan pupuk yang digunakan berupa kotoran ayam. Kotoran ayam memiliki kelebihan diantaranya memiliki unsur hara yang lebih tinggi, tidak banyak campuran rumput seperti kotoran sapi, campuran berupa sekam padi yang berguna sebagai pembenah fisik dan biologi tanah.

Langkah kerja dalam pembuatan pupuk kandang ayam menjadi pupuk kompos sebagai berikut:

a.       Kebutuhan pupuk kandang ayam untuk 1 hektar tanaman cabai sebanyak 2000 kg

b.      Setengah dari kebutuhan pupuk kandang (1000 kg) dituangkan diatas permukaan tanah

c.       Kemudian disiram air bersih sambil diinjak-injak sampai tercampur namun tidak sampai airnya mengalir.

d.      Kemudian setengah pupuk kandang ayam sisanya (1000 kg) dituangkan di atas tumpukan pertama, lalu disiram dan diinjak-injak sampai tercampur.

e.       Kemudian ditutup menggunakan plastic atau terpal.

f.       Setelah 1 bulan pupuk diaduk dan ditutup kembali

g.      Satu bulan kemudian pupuk kompos siap digunakan.

Teknik penggunaan pupuk kandang ayam selain dikomposkan di atas lahan dapat juga dilakukan dengan menebar pupuk kandang ayam di atas bedengan kemudian disiram mikroba. Dosis pupuk kompos ayam adalah 1 karung per 3 meter bedengan.

C.    Bibit

Bibit merupakan bahan tanaman yang akan ditanaman. Dalam menentukan bibit perlu memperhatikan hal-hal berikut ini:

a.       Merupakan bibit unggul dan bersertifikat

b.      Harus tahu jenis produk yang dibutuhkan di pasar atau sesuai permintaan/kebutuhan pasar.

D.    Pasar

Pasar merupakan tempat atau tujuan  disalurkannya produksi tanaman. Sehingga dapat dikatakan bahwa pasar adalah tujuan. Oleh karena itu perlu mengetahui perkembangan pasar dan kebutuhan pasar. Tujuan produk tanaman apakah ke pasar tradisional, ke pasar induk, ke pasar modern, ke swalayan, dan atau kontrak dengan pihak tertentu.

            Setelah menerapkan keempat kunci sukses bertani di atas, tentunya masih terdapat beberapa kendala yang dapat menyebabkan produksi belum maksimal. Sehingga petani harus mampu mengenali kendala apa saja yang menjadi factor penyebab produksi rendah sehingga petani dapat mengatasinya. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi:

1.      Pola tanam yang tidak tepat: Pola tanam dengan cara tumpang gilir dapat menekan biaya, waktu, dan tenaga.

2.      Pergiliran tanaman yang kurang sesuai: Misal pergiliran tanaman brokoli/bunga kol dengan buncis. Untuk budidaya cabai pola pergiliran yang baik yaitu: Cabe – Brokoli – Buncis – Cabe.

3.      Penanaman tanaman yang sama secara terus menerus. Seharusnya untuk menanam tanaman yang sama harus menunggu setidaknya satu sampai dua periode tanam.

4.      Pengolahan lahan berkali-kali: Pengolahan lahan yang sering akan menyebabkan terkikisnya unsur hara tanah, matinya mikroorganisme dalam tanah dan membengkaknya biaya input. Sebaiknya satu kali pengolahan lahan cukup untuk satu tahun atau lebih. Karena sekali olah lahan dapat dilakukan penanaman tanaman yang berbeda sebanyak 8 (delapan) kali penanaman.

 

 

PANEN DAN PASCAPANEN

A.    Panen

Panen merupakan kegiatan mengambil hasil tanaman yang sudah memenuhi kriteria panen dan sesuai kebutuhan pasar dengan cara dipetik, dibongkar, dan dipotong. Tanaman cabe merah keriting mulai panen pada umur tanaman 90-100 hst. Kriteria dan teknik panen cabai merah keriting sebagai berikut:

1.      Panen merah : 99-100% sudah berwarna merah tanpa ada warna hijau

2.      Panen hijau : 99-100% masih berwarna hijau belum ada warna merah

3.      Cabe dipanen harus dengan tangkai: Untuk mempertahankan dan menajaga daya simpan.

B.     Pascapanen

Pascapanen merupakan kegiatan yang dilakukan sebagai upaya penanganan hasil panen sampai produk siap dipasarkan. Tujuan dilakukan penanganan pascapanen adalah untuk menghindari kontaminasi hama dan penyakit dari tanaman terserang dengan tanaman sehat, mempertahankan daya simpan, meningkatkan kualitas dan menambah harga jual. Kegiatan pascapanen meliputi pembersihan, pencucian, pemisahan atau sortasi, grading, dan pengemasan.

1.      Pembersihan: Membersihkan buah tanaman cabe merah keriting dari dahan maupun daun yang menempel, kotoran lain seperti percikan tanah dan hama.

2.      Pencucian: Pencucian dilakukan untuk membersihkan sisa pestisida yang menempel, tanah, hama dan kotoran lainnya sehingga produk lebih bersih dan menarik.

3.      Pemisahan atau sortasi: Sortasi bertujuan untuk memisahkan buah yang rusak, layu, busuk, terserang hama penyakit dan belum matang sempurna dengan buah yang bagus dan sehat.

4.      Grading: Pelaksanaan grading hampir sama dengan sortasi yaitu melakukan pemisahan. Bedanya dengan sortasi, grading dilakukan untuk memisahkan buah berdasarkan kualitas. Untuk cabe merah keriting, kualitas dibedakan berdasarkan ukuran, warna, bobot dan bentuk (bengkok dan lurus). Kemudian pemisahan berdasarkan kualitas tersebut dibedakan ke dalam tingkatan kualitas yang disebut dengan grade. Untuk grade cabe merah keriting teridir dari tiga grade, yaitu grade A, grade B dan grade C. Grade A untuk cabe yang lurus, sehat, merah, tidak patah dan panjang antara 15-20 cm, garde B untuk cabe yang bengkok, sehat dan panjang antara 10-15 cm, dan garde C untuk cabe yang bengkok sekali, rusak, dan patah.

5.      Pengemasan: Pengemasan atau packing bertujuan untuk menambah nilai dan harga jual. Pengemasan dapat dilakukan dengan kantong plastic transparan ukuran 500 gram dengan bobot 250 - 500 gram dan pengemasan menggunakan streoporm lalu diwraping dengan bobot 250-500 gram.

 

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)

STRATEGI PEMASARAN CABE MERAH KERITING

SESUAI DENGAN

GOOD MANUFACTURING PRACTICES (GMP)

 

STRATEGI PEMASARAN

            Strategi pemasaran merupakan suatu teknik atau cara yang dilakukan untuk menjual suatu produk ke berbagai pasar. Pasar sebagai tujuan akhir dari suatu hasil proses produksi maka produk yang dihasilkan harus memenuhi kriteria yang dibutuhkan pasar. Demikian juga halnya pada produk pertanian, baik itu produk buah-buahan, sayuran daun maupun hortikultura seperti cabe merah keriting. Agar produk cabe merah keriting dapat dijual dengan harga yang menguntungkan harus memperhatikan strategi pemasaran yang diterapkan. Terdapat tiga startegi pemasaran yang harus diperhatikan, yaitu kualitas, kontiniuitas dan harga yang bersaing.

A.    Kualitas

Kualitas merupakan tingkat baik buruknya, derajat atau taraf mutu suatu produk. Sehingga harga produk tersebut dapat dipengaruhi oleh kualitas atau mutu produk. Sama halnya dengan cabe merah keriting, semakin bagus kualitasnya maka semakin baik harganya. Kualitas juga dapat diartikan sebagai suatu standard produk yang ditentukan berdasarkan kualifikasi hasil sortasi dan grading terhadap cabe merah keriting.

Pelaksanaan sortasi dan grading dapat memisahkan cabe merah keriting yang berkualitas baik, sedang dan rendah. Dengan perbedaan kualitas tersebut, semua tingkatan harga pasar dapat dipenuhi. Perbedaan kualitas cabe merah keriting dapat digolongkan kepada tiga taraf atau tingkatan, yaitu grade A (kualitas baik), grade B (kualitas sedang) dan garde C (kualitas rendah). Misalnya untuk cabe merah keriting dengan kualitas baik dapat dipasarkan ke pasar modern, swalayan maupun ke bazar dengan harga yang lebih tinggi. Cabe merah keriting dengan kualitas sedang dapat dipasarkan ke pasar induk dengan harga yang lebih bersaing. Sedangkan cabe merah keriting dengan kualitas buruk dapat dipasarkan ke pasar tradisional dengan harga pasar saat itu.

Dengan demikian akan diperoleh keuntungan yang lebih besar dibandingkan tanpa melakukan pengklasifikasian kualitas. Karena tanpa adanya pembedaan kualitas maka produk cabe merah keriting hanya dapat dipasarkan ke pasar tradisional dengan harga pasar saat itu.

B.     Kontiniuitas

Kontiniuitas merupakan suatu system berkelanjutan yang konsisten. Kontiniuitas produksi merupakan proses produksi yang berkelanjutan dengan kuantitas dan dalam jangka waktu tertentu. Dengan adanya kontiniuitas produksi maka kebutuhan pasar dapat dipenuhi setiap saat.

Supaya kontiniuitas produksi dapat dipertahankan, maka perlu membuat perencanaan program tanam yang disusun dalam bentuk kalender tanam. Melalui kalender tanam, produksi tanaman dapat diatur sehingga produksi tidak terputus dan tetap berlanjut.

Kontiniuitas produksi dalam memenuhi kebutuhan pasar dapat diterapkan melalui kerjasama, bermitra maupun kontrak dengan offtaker. Dalam menjalin hubungan kerjasama pasar terkait kontiniuitas produksi, seorang petani tidak boleh mengatakan bahwa untuk memenuhi permintaan dapat dilakukan dengan mengumpulkan atau membeli dari petani lain. Namun teknik yang sebaiknya yaitu dengan menyampaikan bahwa terdapat petani binaan yang sudah diatur penanamannya berdasarkan kalender tanam.

C.    Harga Yang Bersaing

Harga yang bersaing yang dimaksud adalah bahwa harga produk yang dihasilkan dapat ditetapkan sendiri bahkan lebih tinggi dari harga pasar saat itu. Harga yang bersaing dapat diperoleh apabila produk memiliki kualitas, dan memiliki petani dan anggota. Kualitas produk dengan pembagian grade A, B dan C dapat meningkatkan harga jual dari harga di pasaran. Peran petani dan anggota untuk memperoleh harga yang bersaing adalah untuk mempertahankan kontiniuitas produksi sehingga keberadaan produk di pasar tidak terputus dan harga bisa bertahan.

 

 

RANCANGAN ANGGARAN BIAYA (RAB)

BUDIDAYA TANAMAN CABE MERAH KERITING

           

            Rancangan Anggaran Biaya (RAB) merupakan perhitungan besaran biaya yang dibutuhkan dan akan dianggarkan dalam suatu kegiatan yang akan datang. Tujuan pembuatan RAB adalah untuk mengetahui secara pasti besaran biaya yang harus dipersiapkan. Fungsi RAB adalah sebagai pedoman pelaksanaan pekerjaan dan sebagai alat pengontrol pelaksanaan pekerjaan.

            Rancangan Anggaran Biaya untuk kegiatan budidaya tanaman cabe merah keriting memiliki tujuan untuk memperhitungkan besaran biaya yang diperlukan untuk keseluruhan jenis belanja, baik belanja bahan, peralatan, sewa, upah dan biaya lainnya. Perhitungan rancangan anggaran biaya dibuat berdasarkan jenis komoditas, jangka waktu pelaksanaan dan luasan lahan. Jangka waktu pelaksanaan adalah satu siklus periode tanam cabe merah keriting atau berkisar 180 hari, dan luasan lahan yang digunakan adalah satu hektar. Estimasi jumlah tanaman cabe merah keriting dalam satu hektar lahan adalah 20.000 (dua puluh ribu) pohon. Melalui perhitungan RAB dapat diperoleh berapa besaran harga pokok penjualan (HPP) untuk satu tanaman cabe merah keriting.

            Komponen anggaran yang dihitung dalam pembuatan RAB budidaya cabe merah keriting meliputi biaya tetap, biaya variable, biaya upah, biaya tak terduga, estimasi hasil panen, estimasi pendapatan, keuntungan dan B/C Rasio. Biaya tetap mecakup biaya untuk sewa lahan, bibit, pupuk kandang, mulsa plastic dan ajir. Biaya variable mencakup biaya untuk pengolahan lahan, pupuk daun dan pestisida, dan nutrisi. Sedangkan biaya upah mencakup biaya tanam dan pemeliharaan dan biaya panen masuk dalam komponen estimasi hasil panen.

A.    Biaya Tetap

Biaya tetap merupakan biaya konstan yang besarannya tidak berubah dan tidak tergantung pada tingkat produksi maupun jasa yang dihasilkan. Biaya tetap biasanya memiliki nilai yang sama untuk beberapa periode dalam jangka waktu satu tahun. Jenis-jenis pembiayaan yang tergolong dalam biaya tetap dalam kegiatan budidaya cabe merah keriting meliputi biaya sewa lahan, biaya bibit, biaya puuk kandang ayam, biaya plastik mulsa dan biaya ajir.

1.      Sewa Lahan; Sewa lahan dihitung berdasarkan luas lahan dalam jangka waktu satu tahun. Biaya sewa lahan per hektar sebesar Rp.25.000.000,-.

2.      Bibit Cabe Merah Keriting; Bibit yang digunakan merupakan bibit jadi atau siap tanam. Kebutuhan bibit untuk satu hektar lahan dengan estimasi jumlah lobang tanam 20.000 adalah sebanyak 12 pack dengan harga sebesar Rp.140.000 per pack. Sehingga biaya bibit cabe merah keriting yang dikeluarkan sebesar Rp.1.680.000,-.

3.      Pupuk Kandang Ayam; Kebutuhan pupuk kandang ayam untuk lahan satu hektar sebanyak 2.000 karung dengan harga per karung sebesar Rp.12.000,- sehingga biaya pupuk kandang per hektar sebesar Rp.24.000.000,-.

4.      Mulsa Plastik; Jumlah plastik mulsa yang dibutuhkan dalam satu hektar lahan sebanyak 10 roll dengan harga per roll sebesar Rp.720.000,- sehingga kebutuhan biaya mulsa plastik per hektar sebesar Rp.7.200.000,-.

5.      Ajir; Ajir yang digunakan merupakan ajir bamboo dengan panjang 120 cm. Kebutuhan ajir untuk tanaman cabe merah keriting per hektar sebanyak 12.000 batang dengan harga Rp.500,- per batang, sehingga jumlah biaya untuk pembelian ajir sebesar Rp.6.000.000,- per hektar.

B.     Biaya Variabel

Biaya variable merupakan biaya yang bersifat dinamis dan dapat berubah ubah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Pada kondisi tertentu biaya variable bisa tidak dibutuhkan, bisa berkurang dan bisa bertambah. Komponen biaya variable dalam budidaya cabe merah keriting meliputi biaya pengolahan lahan, biaya pupuk daun dan pestisida dan biaya nutrisi susulan. Biaya upah tenaga kerja dapat digolongkan kepada biaya variable, namun untuk memperoleh perhitungan tersendiri maka dibuat jenis biaya tersendiri di luar biaya variable.

1.      Pengolahan lahan; Sistem pembiayaan pengolahan lahan budidaya cabe merah keriting adalah borongan. Rincian kegiatan pengolahan lahan yang diborongkan meliputi pembersihan lahan, pengolahan tanah, pembuatan bedengan, pencampuran pupuk kandang ayam di atas bedengan, perapihan bedengan, pemasangan mulsa dan pembuatan lobang tanam. Perhitungan biaya borongan pengolahan lahan yaitu dengan satuan roll mulsa. Biaya pengolahan lahan untuk satu roll mulsa sebesar Rp.2.500.000,-. Kebutuhan mulsa per hektar mencapai 10 roll, sehingga biaya pengolahan lahan per hektar sebesar Rp.25.000.000,-.

2.      Pupuk Daun dan Pestisida; Perhitungan buaya pembelian pupuk daun dan pestisida tergantung umur tanaman dan interval penyemprotan yang dilakukan. Umur tanaman cabe merah keriting dari tanam hingga selesai atau produksi habis mencapai 180 hari yang terdiri dari umur tanaman sejak tanam sampai panen selama 90-100 hari dan masa panen selama 80-90 hari. Kegiatan penyemprotan pupuk daun dan pestisida dilakukan dengan interval 10 hari sekali sejak tanam sampai 20 hari menjelang produksi habis. Dari umur tanaman selama 180 hari dikurangi 20 hari menjelang selesai maka sisa umur tanaman yang dilakukan penyemprotan adalah 160 hari. Dengan demikian banyaknya penyemprotan dengan interval 10 hari adalah sebanyak 16 kali.

Kebutuhan volume semprot pupuk daun dan pestisida per hektar untuk sekali penyemprotan rata-rata sebanyak 800 liter. Volume semprot sejak awal tanam sampai panen biasanya bertahap meningkat, pada awal tanam volume semprot sebanyak 200 liter hingga menjelang akhir produksi mencapai 1000-1200 liter per hektar.

Dari rata-rata volume penyemprotan 800 liter per hektar dengan menggunakan media drum bervolume 200 liter membutuhkan 4 drum per sekali penyemprotan. Sehingga untuk satu periode tanam dengan intensitas penyemprotan sebanyak 16 kali maka membutuhkan 64 drum. Biaya pupuk daun dan pestisida yang diperlukan per drum sebesar Rp.420.000,- dengan rincian untuk fungisida sebesar Rp.150.000,- per drum, untuk insektisida sebesar Rp.200.000,- per drum dan pupuk daun sebesar Rp.70.000,- per drum. Sehingga jumlah biaya pupuk daun dan pestisida dalam satu periode tanam sebesar Rp.26.880.000,- .

3.      Biaya Nutrisi Susulan; Nutrisi susulan yang digunakan adalah pupuk kimia NPK 16:16:16. Pemberian pupuk NPK sebagai nutrisi susulan bersifat variable tergantung pertumbuhan dan perkembangan tanam atau sesuai kebutuhan. Pemberian nutrisi susulan dilakukan dengan cara dikocor dengan dosis 200 ml per batang. Untuk satu hektar lahan dengan populasi 20.000 batang membutuhkan 4.000.000 ml atau setara dengan 4.000 liter pupuk kocor (20 drum).

Pemberian nutrisi susulan dilakukan dengan interval 10 hari sekali sejak tanam sampai 30 hari menjelang akhir umur tanaman. Sehingga sisa waktu pemberian nutrisi susulan adalah selama 150 hari dengan intensitas pemberian nutrisi susulan sebanyak 15 kali.  Sehingga untuk satu musim tanam membutuhkan 300 drum pupuk kocor.

Kebutuhan pupuk NPK per drum sebanyak 5 kg, maka jumlah pupuk NPK yang dibutuhkan setiap kali pengocoran sebanyak 100 kg dan untuk satu periode tanam dengan intensitas 15 kali pengocoran membutuhkan sebanyak 1.500 kg atau 1.5 ton pupuk NPK.

Kebutuhan buaya pemberian nutrisi susulan per hektar per periode tanam sebesar Rp.24.000.000,- dengan rincian harga pupuk NPK 16:16:16 per kilo gram sebesar Rp.16.000,- dan per sekali pengocoran sebesar Rp.1.600.000,-

C.    Biaya Upah Tenaga Kerja

Biaya upah tenaga kerja merupakan biaya yang dikeluarkan untuk pekerja yang melaksanakan pekerjaan selama budidaya tanaman cabe merah keriting sejak tanam dan selama pemeliharaan. Kegiatan pemeliharaan yang membutuhkan biaya upah tenaga kerja meliputi pemasangan ajir, pengikatan ajir, pembuangan tunas air, penyiangan, penyemprotan dan pengocoran.

1.      Penanaman; Kegiatan penanaman dilakukan oleh pekerja wanita sebanyak 10 hari kerja wanita (hkw). Kemampuan pekerja wanita menanam tanaman cabe merah keriting sebanyak 200 batang/hari/orang, sehingga cukup 10 hkw untuk menanam 20.000 tanaman per hektar. Upah tenaga kerja wanita per hkw sebesar Rp.60.000,- sehingga total upah penanaman sebesar Rp.600.000,-.

2.      Pemasangan Ajir; Pemasangan ajir dilakukan oleh pekerja pria selama 7 hari kerja pria (hkp). Kemampuan pekerja pria memasang ajir sebanyak 3.000 lobang/hari/orang, sehingga cukup 7 hkp untuk memasang ajir per hektar/hari. Upah tenaga kerja pria per hkp sebesar Rp.100.000,- sehingga total upah pemasangan ajir per hektar sebesar Rp.700.000,-.

3.      Pengikatan Ajir; Pengikatan ajir dilakukan oleh pekerja wanita dengan kemapuan mengikat ajir per orang sebanyak 2000 batang, sehingga untuk mengikat 20.000 batang tanaman cabe merah keriting butuh 10 hkw. Upah tenaga kerja per hkw sebesar Rp.60.000,- dengan total upah pengikatan ajir sebesar Rp.600.000,-.

4.      Pembuangan Tunas Air; Pembuangan tunas air dilakukan sebanyak dau kali oleh pekerja wanita sebanyak 12 hkw per sekali pembuangan tunas air, sehingga butuh 24 hkw untuk dua kali pembuangan tunas air. Upah tenaga kerja per hkw sebesar Rp.60.000,- dengan total upah pembuangan tunas air sebesar Rp.1.440.000,-.

5.      Penyiangan Gulma; Kegiatan penyiangan gulma dalam satu periode tanam dilakukan sebanyak tiga kali. Sekali penyiangan membutuhkan 10 hkw dengan upah sebesar Rp.60.000 per hkw. Sehingga total biaya upah penyiangan gulma untuk tiga kali pelaksanaan sebesar Rp.1.800.000,-.

6.      Penyemprotan; Penyemprotan pupuk daun dan pestisida dilakukan menggunakan mesin dan membutuhkan 5 orang hkp per hektar. Dengan rincian tugas dua orang melakukan penyemprotan, dua orang menarik selang dan satu orang mengontrol mesin dan drum. Untuk intensitas penyemprotan sebanyak 16 kali membutuhkan 80 hkp dengan upah sebesar Rp.100.000,- per hkp, maka total upah penyemprotan keseluruhan sebesar Rp.8.000.000,-.

7.      Pengocoran Nutrisi Susulan; Kegiatan pengocoran membutuhkan tenaga kerja sebanyak 5 hkp per sekali pengocoran. Intensitas pengocoran dalam satu kali periode tanam sebanyak 15 kali sehingga membutuhkan 75 hkp. Upah tenaga kerja per hkp sebesar Rp.100.000,- sehingga dalam satu periode tanam biaya upah pengocoran sebesar Rp.7.500.000,-.

8.      Biaya Bahan Bakar Mesin; Biaya bahan bakar mesin dihitung untuk keperluan penyemprotan dan pengocoran. Kebutuhan bahan bakar per hari sebanyak 2 liter dengan harga sebesar Rp.15.000,- per liter sehingga biaya per hari sebesar Rp.30.000,-. Intensitas penyemprotan dan pengocoran dalam satu periode tanam sebanyak 31 kali sehingga total biaya bahan bakar sebesar Rp.930.000,-.

D.    Biaya Tidak Terduga

Biaya tidak terduga merupakan biaya yang pengeluarannya di luar perencanaan. Besaran biaya tidak terduga sebesar Rp.5.000.000,-.

E.     Estimasi Hasil Panen

Estimasi hasil panen merupakan estimasi banyaknya hasil panen dikali harga jual,  biaya panen dan biaya rijek.

1.      Estimasi produksi dan penjualan; Produksi tanaman cabe merah keriting per hektar mencapai 20 ton dengan estimasi 1 kg/pohon. Harga jual cabe merah keriting per kg sebesar Rp.23.400,- sehingga total penjulan 20 ton cabe merah keriting sebesar Rp.468.000.000,-.

2.      Biaya panen; Biaya panen mencakup biaya upah pada saat panen, biaya wadah dan biaya upah angkut. Besaran biaya panen per kg sebesar Rp.3.000,- sehingga total biaya panen 20 ton sebesar Rp.60.000.000,-.

3.      Biaya rijek; Biaya rijek merupakan selisih harga jual normal dengan harga jual rijek dikalikan jumlah rijekan. Besaran rijek cabe merah keriting mencapai 15% dari total produksi sehingga jumlah rijek sebanyak 1.5 ton. Harga jual rijek sebesar Rp.10.000,-, maka selisih harga jual normal dengan hara jual rijek sebesar Rp.13.400,-. Jadi total biaya rijek sebanyak 1.5 ton dikali harga Rp.13.400,- adalah sebesar Rp.20.100.000,-.

F.     Estimasi Pendapatan

Estimasi pendapatan diperoleh dari penjumlahan estimasi produksi dan penjulan dikurangi biaya panen dan biaya rijek. Sehingga diperoleh estimasi pendapatan sebesar Rp.468.000.000 – Rp.60.000.000 – Rp.20.100.000 sama dengan Rp.387.900.000,-.

G.    Keuntungan/Laba

Keuntungan atau laba diperoleh dari total pendapatan dikurangi seluruh biaya. Jadi jumlah keuntungan adalah sebesar Rp.387.750.000 – 166.270.000 sama dengan Rp.221.630.000,-

H.    B/C Rasio

Nilai rasio antara keuntungan dan biaya sebesar Rp.221.630.000 / Rp. 166.270.000 sama dengan 1.33. Nilai B/C Rasio yang diperoleh sebesar 1.33 lebih besar dari 1 (1.33>1) menandakan bahwa kegiatan budidaya cabe merah keriting menguntungkan dapat dapat dilaksanakan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel Rancangan Anggaran Biaya Budidaya Cabe Merah Keriting Satu Siklus Tanam dengan satuan luas lahan satu hektar.

No

Komponen Anggaran

Volume

Satuan

Harga/Biaya Satuan

Jumlah

Total

1

BIAYA TETAP

a

Sewa Lahan

1

Ha

25,000,000

 25,000,000

b

Bibit Cabe Merah Keriting (CMK)

12

Pack

     135,000

   1,620,000

c

Pupuk Kandang Ayam

2000

Karung

      12,000

 24,000,000

d

Mulsa Plastik

10

Roll

    720,000

   7,200,000

e

Ajir Bambu

12000

Batang

           500

   6,000,000

Jumlah

63,820,000

 

2

BIAYA VARIABEL

a

Pengolahan Lahan (Borongan)

10

Roll

 2,500,000

 25,000,000

b

Pestisida dan Pupuk Daun

       a. Fungisida

64

Drum

     150,000

   9,600,000

       b. Insektisida

64

Drum

     200,000

 12,800,000

       c. Pupuk Daun

64

Drum

       70,000

   4,480,000

c

Nutrisi Susulan/NPK

1500

Kg

       16,000

 24,000,000

Jumlah

75,880,000

 

3

BIAYA UPAH PEMELIHARAAN

                        

a

Penanaman (HKW)

10

Orang

       50,000

      500,000

b

Pemasangan Ajir (HKP)

7

Orang

     100,000

      700,000

c

Mengikat Tanaman Cabai (HKW)

10

Orang

       60,000

      600,000

d

Pembuangan Tunas Air (HKW)

24

Orang

       60,000

   1,440,000

e

Penyiangan Gulma (HKW)

30

Orang

       60,000

   1,800,000

f

Penyemprotan

80

Orang

     100,000

   8,000,000

g

Pemupukan/Pengocoran

75

Orang

     100,000

   7,500,000

 

h

Biaya bahan bakar

62

Liter

15,000

930,000

 

Jumlah

21,570,000

4

BIAYA TIDAK TERDUGA

5,000,000

        

TOTAL BIAYA

166,270,000

5

ESTIMASI HASIL PANEN

a

Produksi Per Pohon 1 Kg

20000

Kg

       23,400

  468,000,000

- Biaya Panen

20000

Kg

         3,000

    60,000,000

- Biaya Rejek 15%

1500

Kg

       13,400

    20,100,000

6

ESTIMASI PENDAPATAN

                         

a

Estimasi Hasil Panen - Biaya Panen - Biaya Rejek

    387,900,000

7

KEUNTUNGAN/LABA

a

Pendapatan-Total Biaya

  221,630,000

8

B/C RASIO

a

Keuntungan/Total Biaya

1.33

 

 

 

 

 


BIODATA PENULIS

FAISAL KURNIA HARAHAP adalah nama penulis Modul ini. Penulis lahi dari orangtua Sa’ban Harahap dan Santi Siregar sebagai anak pertama dari lima bersaudara. Penulis dilahirkan di Desa Simardona Kec. Batang Onang Kab. Padang Lawas Utara Prov. Sumatra Utara pada tangal 18 September 1991.

Penulis menempuh pendidikan di SDN Desa Simardona tahun 2008-2014, lanjut ke MTs Swasta PonPes Modern Baharuddin Tapanuli Selatan 2014-2017, lanjut ke SPP/SPMA Negeri Tapanuli Selatan 2017-2010, dan menempuh pendidikan S1 di Universitas Graha Nusantara Padangsidimpuan 2010-2017 dengan gelas Sarjana Pertanian. Saat ini menempuh pendidikan Vokasi (DIV) di Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor dari tahun 2021, mengambil Program Studi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan (Semester IV).

Penulis menikah pada tahun 2018, dan sudah dikaruniai satu anak. Pada saat ini penulis masih aktif bekerja di Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian (BPSIP) Kepulauan Riau sejak tahun 2015.

Mengutip jargon pak Ulus Pirmawan “AKU BISA, HARUS BISA PASTI BISA”.

Terimakasih….

Informasi Unggulan

MENGOBATI RINDU ANAK ISTRI

 Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatu Salam pembuka, semoga Ridho Allah Subhana Wata'ala senantiasa menyertai setiap hembusan ...