Praktik
budidaya yang baik dan benar dilakukan dengan memperhatikan keseluruhan tahapan
budidaya mulai dari lahan sampai panen. Praktik budidaya tersebut dilakukan
dengan prinsip ekologi yang dapat menjaga kelestarian sumberdaya hayati dan
kesehatan pangan. Dengan demikian praktik budidaya tersebut menggunakan input
yang aman dan terjamin sehingga keberlangsungan kegiatan budidaya tetap
terjaga. Dampak yang didapatkan akan bernilai positif, diantaranya kesuburan
tanah terjaga, keberadaan organisme pengganggu tanaman terkendali dan agensi
hayati terjaga serta terhindar dari pencemaran lingkungan.
Rangkaian praktik budidaya yang baik
dan benar berdarakan Good Agriculture
Practices (GAP) meliputi kegiatan budidaya dan kegiatan panen. Pada tahap
kegiatan budidaya terdapat beberapa poin penting yang harus diperhatikan, mulai
dari pengolahan lahan, penanaman, dan pemeliharaan. Oleh karena itu, agar
kegiatan budidaya dapat dilakukan dengan baik dan maksimal, ada empat kunci
sukses yang harus dipahami dan dilaksanakan oleh seorang petani dalam praktik
budidaya.
Terdapat
4 (empat) kunci sukses yang wajib petani pahami:
- Lahan dan pengolahan
lahan yang baik
- Pupuk yang sudah
menjadi kompos
- Bibit unggul dan
bersertifikat
- Pasar
Lahan mencakup
lokasi lahan, tofografi lahan, sejarah lahan dan cara pengolahan lahan. Untuk
menentukan lokasi dan luas lahan harus mampu menentukan jenis tanaman yang mau
ditanam.
a.
Lokasi Lahan:
Lokasi lahan harus mudah dijangkau dan terdapat akses transportasi
b.
Tofografi Lahan:
Kemiringan lahan yang baik tidak lebih 30%
c.
Sejarah
Lahan/Asal Usul Lahan: Perlu menelusuri asal usul lahan, sehingga dapat
diketahui teknik pengolahan lahan yang sesuai dan kebutuhan untuk pengolahan
lahannya. Asal-usul lahan bisa berupa bekas penanaman tanaman hortikultura atau
tahunan, bisa berupa lahan tidur dan bisa berupa lahan bukaan baru.
d.
Untuk tanaman
cabai menghendaki tidak banyak naungan atau tidak banyak pohon penghalang, dan
tanah yang gembur dengan sedikit berpasir.
Teknik
pengolahan tanah yang baik dan benar untuk tanaman cabai merah adalah:
a.
Lahan dibersihkan
dari gulma, bekas ajir dan tanggul tanaman sebelumna
b.
Lahan diolah
dengan kedalaman 30 cm sampai tanah menjadi gembur.
c.
Lebar bedengan
optimal 90 cm dan minimal 80 cm
d.
Jarak antara
bedengan maksimal 60 cm dan minimal 50 cm.
e.
Tinggi bedengan
maksimal 40 cm dan minimal 30 cm
f.
Jarak tanam
untuk lebar bedengan 80 cm adalah 50x60 cm dan untuk lebar bedengan 90 cm
adalah 50x70 cm.
Pupuk yang sudah
dikomposkan adalah pupuk kandang yang sudah dilakukan perlakuan pengomposan
sebelum pemakaian ke lahan/bedengan. Bahan pupuk yang digunakan berupa kotoran
ayam. Kotoran ayam memiliki kelebihan diantaranya memiliki unsur hara yang
lebih tinggi, tidak banyak campuran rumput seperti kotoran sapi, campuran
berupa sekam padi yang berguna sebagai pembenah fisik dan biologi tanah.
Langkah kerja
dalam pembuatan pupuk kandang ayam menjadi pupuk kompos sebagai berikut:
a.
Kebutuhan pupuk
kandang ayam untuk 1 hektar tanaman cabai sebanyak 2000 kg
b.
Setengah dari
kebutuhan pupuk kandang (1000 kg) dituangkan diatas permukaan tanah
c.
Kemudian disiram
air bersih sambil diinjak-injak sampai tercampur namun tidak sampai airnya
mengalir.
d.
Kemudian
setengah pupuk kandang ayam sisanya (1000 kg) dituangkan di atas tumpukan
pertama, lalu disiram dan diinjak-injak sampai tercampur.
e.
Kemudian ditutup
menggunakan plastic atau terpal.
f.
Setelah 1 bulan
pupuk diaduk dan ditutup kembali
g.
Satu bulan
kemudian pupuk kompos siap digunakan.
Teknik penggunaan pupuk kandang
ayam selain dikomposkan di atas lahan dapat juga dilakukan dengan menebar pupuk
kandang ayam di atas bedengan kemudian disiram mikroba. Dosis pupuk kompos ayam
adalah 1 karung per 3 meter bedengan.
Bibit merupakan
bahan tanaman yang akan ditanaman. Dalam menentukan bibit perlu memperhatikan
hal-hal berikut ini:
a.
Merupakan bibit
unggul dan bersertifikat
b.
Harus tahu jenis
produk yang dibutuhkan di pasar atau sesuai permintaan/kebutuhan pasar.
Pasar merupakan
tempat atau tujuan disalurkannya
produksi tanaman. Sehingga dapat dikatakan bahwa pasar adalah tujuan. Oleh
karena itu perlu mengetahui perkembangan pasar dan kebutuhan pasar. Tujuan
produk tanaman apakah ke pasar tradisional, ke pasar induk, ke pasar modern, ke
swalayan, dan atau kontrak dengan pihak tertentu.
Setelah
menerapkan keempat kunci sukses bertani di atas, tentunya masih terdapat
beberapa kendala yang dapat menyebabkan produksi belum maksimal. Sehingga
petani harus mampu mengenali kendala apa saja yang menjadi factor penyebab
produksi rendah sehingga petani dapat mengatasinya. Faktor-faktor yang mempengaruhi
produksi:
- Pola tanam yang tidak tepat: Pola tanam dengan cara
tumpang gilir dapat menekan biaya, waktu, dan tenaga.
- Pergiliran tanaman yang kurang sesuai: Misal
pergiliran tanaman brokoli/bunga kol dengan buncis. Untuk budidaya cabai pola
pergiliran yang baik yaitu: Cabe – Brokoli – Buncis – Cabe.
- Penanaman tanaman yang sama secara terus menerus.
Seharusnya untuk menanam tanaman yang sama harus menunggu setidaknya satu
sampai dua periode tanam.
- Pengolahan lahan berkali-kali: Pengolahan lahan yang
sering akan menyebabkan terkikisnya unsur hara tanah, matinya mikroorganisme
dalam tanah dan membengkaknya biaya input. Sebaiknya satu kali pengolahan lahan
cukup untuk satu tahun atau lebih. Karena sekali olah lahan dapat dilakukan
penanaman tanaman yang berbeda sebanyak 8 (delapan) kali penanaman.
Terimakasih Sudah Membaca
Penulis : Faisal Kurnia Harahap
Sabtu, 23 September 2023